Bagaimana Cara Orang Zaman Dulu Menentukan Awal Ramadan?

Posting Komentar
cara menentukan awal ramadan

Pernah terpikirkah bagaimana cara orang zaman dulu menentukan awal Ramadan? Di saat teknologi jauh belum berkembang pesat seperti saat ini. Bagaimana ketika akses informasi belum bisa secepat saat ini orang-orang akan mengetahui tanggal 1 Ramadan?.

Cara Menentukan Awal Ramadan

Dalam Kitab Safinatunnaja bab awal Ramadan, dibahas tata cara bagaimana menentukan tanggal 1 Ramadan sebagai penanda dimulainya ibadah saum. Kitab Safinatunnaja adalah kitab fikih yang banyak dikaji di pesantren-pesantren, isinya adalah pembahasan tentang rukun-rukun dalam Islam, yang di dalamnya termasuk seluk beluk ibadah saum.

Dalam kitab yang dikenal dengan kitab Safinah ini, setidaknya ada 5 cara menentukan awal Ramadan yang digunakan oleh masyarakat pada zaman dulu dan sebenarnya masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. 5 Cara menentukan awal Ramadan tersebut adalah:

Telah Selesainya Bulan Syaban

Rata-rata bilangan bulan dam bulan Qomariyah adalah 30 hari, sehingga bulan Syaban dianggap telah sempurna jika telah genap 30 hari. Setelah selesainya bulan Syaban, maka otomatis datanglah awal Ramadan

Dilihatnya Bulan Sebagai Penanda Awal Bulan

Dalam kalender Hijriyah yang digunakan umat Islam, sistem perhitungan bulan yang digunakan adalah berdasarkan perputaran bulan sehingga disebut bulan Qomariyah, di mana Qomar berarti bulan dan penanda tanggal 1 setiap bulannya adalah dengan terlihatnya bulan.

Ditetapkannya Ru'yatul Hilal Sebagai Penanda Awal Ramadan

Jika kita tidak dapat melihat datangnya bulan atau tidak ada tetangga atau saudara yang juga melihat bulan, maka hal selanjutnya yang dilakukan adalah menunggu kabar ditetapkannya awal Ramadan oleh orang yang dapat dipercaya omongannya atau dari lembaga pemerintah.

Adanya Kabar Orang Yang Melihat Bulan

Tentu tidak semua orang dapat melihat penampakan bulan sebagai penanda awal datangnya bulan, maka jika kita tidak menyaksikannya, kita bisa mendengar kabar dari orang yang melihat datangnya bulan. Jika kita percaya dengan kabar tersebut, maka sahlah datangnya awal Ramadan.

Mengira-ngira Telah Datangnya 1 Ramadan

Bagaimana dengan masyarakat yang terisolasi dan sangat minim menerima informasi? Maka jalan terakhir adalah dengan mengira-ngira telah datang awal Ramadan. Proses ini dalam agama Islam disebut dengan berijtihad atau berpikir untuk memutuskan sesuatu.

Menyikapi Perbedaan Awal Ramadan

Menyikapi perbedaan tentang awal Ramadan

Saat ini, di tengah teknologi yang semakin maju, masyarakat hanya tinggal menunggu hasil dari observasi pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama dalam menentukan awal Ramadan. Biasanya akan ada pengumuman yang ditayangkan di seluruh media di akhir bulan Syaban tentang ihwal Ramadan ini.

Namun di tengah kebijakan pemerintah yang menentukan tanggal 1 Ramadan, kita ketahui bahwa di masyarakat Indonesia ada juga yang mempunyai perhitungan tersendiri tanpa mengikuti rekomendasi pemerintah dalam menentukan tanggal 1 Ramadan.

Di Indonesia kita ketahui ada dua organisasi besar dalam bidang keagamaan, yaitu Nahdhatul Ulama yang dikenal dengan NU dan juga ada Muhammadiyah. Keduanya  memiliki sejarah panjang dan penting sehingga menjadi dua organisasi masyarakat yang besar di tanah air ini.

Dalam perjalanannya, NU dan Muhammadiyah memang berbeda secara fikih. Namun, perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang sama sekali untuk umat Islam bersatu di Indonesia.

Perbedaan dalam fikih adalah sunnatullah dan makin hari masyarakat sudah banyak yang memahami dan mentolerir adanya perbedaan ini. Perbedaan akan menjadi rahmat mana kala disikapi dengan bijak oleh setiap masyarakat.

Menyikapi perbedaan dalam menentukan awal Ramadan, ada tanggapan dari seorang blogger parenting, Mas Sugianto. Ia bertutur:

" Perbedaan itu anugerah, tetap dijaga dan saling menghormati. Semua sama-sama punya hujjah masing-masing dalam menetapkan. 
Kalau saya sendiri ikut dengan apa yang sudah ditetapkan pemerintah, karena memang kita juga perlu patuh pada pemimpin (ulil amri) dan juga ulama.
Namun demikian, janganlah kita terus fokus pada perbedaan, saatnya fokus pada kesamaan dan mengisinya dengan hal yang mulia.
Mengisi kemuliaan Ramadhan dengan saling fastabikhul khairat "

Sejatinya sikap seperti mas Sugianto dimiliki oleh setiap warga masyarakat, agar perbedaan sebagai sebuah rahmat benar-benar dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Dengan majunya teknologi dan dari bagaimana cara orang zaman dulu menentukan awal Ramadan kita bisa belajar, bahwa perbedaan itu memang niscaya dari zaman dahulu. yang terpenting adalah bagaimana menyikapinya sebijak mungkin tanpa harus ada gesekan dengan pihak-pihak yang berbeda dengan kita.

Yonal Regen
a Father of four, Educator and Author of Narasi Ayah Guru

Related Posts

Posting Komentar